Ini adalah tulisan kedua saya tentang Payung Teduh, tulisan pertama saya buat di bulan Oktober tahun 2013 tentang perjumpaan diblog yang berbeda.
Saya tak pernah menyangka jika pada tulisan yang kedua kalinya ini malah akan bercerita tentang pengunduran diri mas Is yang mana saya yakini menjadi jalan lapang bubarnya Payung Teduh. Hemat saya, belum pernah ada di Indonesia band/penyanyi yang memutuskan pamit/mengundurkan diri saat tengah berada dimasa popularitas, kecuali dia meninggal; Gombloh, Nike ardila dan Mbah Surip, ataupun terkena skandal narkoba; Ari Laso atau Sammy simorangkir.
Tapi dalam kasus mas is berbeda, ia memilih untuk meninggalkan Payung Teduh, band yang telah membesarkan namanya karena sudah tidak sevisi dengan anak-anak Payung Teduh yang lain. Saya tidak bermaksud menganalisa ataupun menerka-nerka apa yang sesungguhnya terjadi dalam tubuh Payung Teduh. Saya hanya seorang pendengar setia yang merasa kecewa dan sedih karena band ini (akan) bubar.
Lagu Akad-lah yang menjadi kambing hitam dari semua kehingar-bingaran ini. Jujur, sebagai penggemar Payung Teduh saya baru mendengar penuh satu kali lagu tersebut saat seorang teman memutarnya di Youtube, dia memamerkannya kepada saya karena dia tahu saya adalah pendengar setianya. Aneh, saya langung mengernyitkan dahi dan bingung bertanya pada diri sendiri dalam hati, itu betul lagu Payung Teduh yang baru? terlalu berisik, begitu ramai dan lirik yang tak menggelitik. Saya tak suka. Lalu selang beberapa hari atau minggu lagu Akad meledak. Kapanpun dimanapun lagu tersebut selalu menjangkau telinga saya, ini cukup menggangu dan mengintimidasi terlebih belum ada wanita yang saya tuju dengan lagu itu. Eh, sampai dimana tadi kita.
Oiya, dengan meledaknya lagu Akad berbanding lurus dengan tawaran dari panggung satu kepanggung yang lain, bahkan sampai lebih dari lima belas panggung dalam satu bulan. Hal itulah yang menjadi boomerang. Ada kegagapan mengantisipasi ketenaran yang menimpa, kepopuleran yang gegap gempita, konsekuensi yang harus mereka terima.
Saya jadi teringat tentang perjumpaan pertama saya dengan mereka. Saya tidak merasa hebat karena mendengarkan mereka dari awal. Saat itu Payung Teduh belum dikenal oleh khalayak, belum terlalu banyak panggung didatangi untuk dihibur, mas Is masih bisa bermain teater di UI, tempat yang menjadi rahimnya Payung Teduh. Bahkan mas Is sempat membaca blog saya dan mengoreksi jumlah penonton yang hadir pada saat itu. Ada keintiman yang terjalin antara Payung Teduh dan pendengar setianya, itu seperti yang diharapkan oleh mas Is pada mulanya.
Sekarang Payung Teduh sudah berbeda, mereka mencari pasar dengan menelurkan lagu Akad. Sebetulnya itu adalah jawaban dari tantangan yang diberikan oleh teman-teman mas Is sendiri untuk menciptakan lagu yang bisa dinikmati oleh lebih banyak orang, dan tantangan itu berhasil, terlihat sempurna. Tapi tidak untuk pendengar awal mereka. Lagu yang jauh dari Berke-Payung Teduh-an.
Dalam titik ini saya berandai, harusnya mas Is bisa menolak tantangan itu ataupun berharap lagu Akad gagal total, karena pada dasarnya kita tidak bisa menyenangkan semua pihak mungkin Payung Teduh dengan mas Is-nya masih ada setidaknya tidak sampai akhir tahun ini.
Pada akhirnya kita harus mengikhlaskan dalam sisa-sisa keikhlasan yang tak pernah diikhlaskan.
Pararararaaaa~~ pararararaa~~